MAKAN BESAR BAGI SANTRI MADANI
Written by swadaya   
Friday, 19 July 2019 14:44

Santri sekolah islam terpadu Madani melakukan ifthor jama’I hari kamis lalu. Sekilas tak ada yang istimewa dari aktivrtas itu. Hanya minum, lalu sholat berjamaah, kemudian  makan-makan yang mereka sebut “Makan Besar”.

Bagi kehidupan santri, makan bersama sudah menjadi hal yang biasa. Namun yang menarik adalah istilah “makan besar”. Makan besar bermakna makan makanan yang mengenyangkan alias dengan porsi besar. Namun hal itu justru berbanding terbalik dengan kehidupan santri. “Makan besar” santri madani, justru dengan menu yang seadaan. Namun mereka tetap menyebut makan besar.

“Apapun yang kita makan, ia tetap menjadi darah dan daging di dalam tubuh. Maka tugas kita hanya meyakinkan bahwa makanan itu halal. Kami bersyukur, sebab Allah selalu memberkan kami rejeki yang tak pernah kekuarangan. Meski  sebagian orang di luaran mengatakan makan seadaanya, namun bagi kami tetap istimewa” ungkap salah seorang pengajar di Madani.

“Makan besar” bermakna menyantap rejeki dengan penuh rasa syukur. Syukur kepada Allah telah menjadikan makan dan minum para penghafal qur’an ini menjadi enerji untuk melangitkan dakwah al qur’an.

“Nikamat Allah mana lagi yang akan di dustakan? Mewah atau tidak itu soal persepsi. Namun bagi kami, makan  besar itu adalah makan dengan rejeki yang halal, berkah, mengenyangkan. Namun tak membuat kami terlena karena kekenyangan. Enerji yang di dhasilkannya membuat kami bersemangat untuk menghafal, berdakwah, dan menuntut ilmu. Bukan sebeliknya. Itu baru namanya makan besar” Ungkap Ustad Beni

Alhamdulillah. Mari makan besar dapat menghasilkan kerja besar, sedang makan dengan porsi besar yang menyebabkan kekenyangan hingga membuat malas untuk mengejar pahala, bisa jadi itu makan kecil. Bukan makan besar. Wallahu a’lam

Last Updated ( Friday, 19 July 2019 14:48 )
 

BEZ News Letter