MAU JADI PENGHAFAL QUR’AN?
Written by swadaya   
Friday, 23 August 2019 15:06

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang duduk

 

Menjadi penghafal al Qur’an merupakan dambaan setiap muslim dan muslimat. Karena memiliki keutamaan yang luar biasa, sebagaimana Rasulullah mengatakan :

 

“Al-Qur’an datang pada hari kiamat dan mengatakan, “Wahai Tuhan, pakaikanlah. Maka dia memakai mahkota karomah (kemulyaan) kemudian mengatakan, “Wahai Tuhan, tambahkanlah dia. Maka dia memakai gelang karomah (kemulyaan). Kemudian mengatakan, “Wahai Tuhan, redoilah dia, maka (Allah) meredoinya. Dikatakan kepadanya, “Bacalah dan naiklah. Ditambah setiap ayat suatu kebaikan.” (HR. Tirmizi)

 

Dan masih banyak lagi dalil tentang keutamaan berinteraksi dengan al-Quran. Lalu bagaimana caranya menjadi penghafal al Qur’an seperti Santri-santri Madani? 

Berikut kami sampaikan garis besar secara umum :

 

1. Perbesar niat

 

Yang pertama adalah memperbesar niat sebagai penghafal Al Aqur’an. Karena niat adalah urusan hati, maka membenarkan niat menjadi modal utama dalam menjadi hafidz/dzah. 
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Niat karena Allah, bukan untuk mengejar dunia atau untuk mendapatkan tempat di mata manusia. Niat in ghendaklah selalu di jaga dan senantiasa selalu di motivasi agar tetap istiqomah.

 

2. Prioritaskan Al Qur’an dalam setiap keadaan

Memprioritaskan al Quran justru akan memudahkan setiap aktivitas. Maka ketika terjebak dalam rutinitas dunia, selalu prioritaskan menghafal Al Qur’an agar selain berpahala juga akan Allah mudahkan segala urusannya.

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa” (QS. Al Hajj : 40)

Menghafal Al Qur’an merupakan salahs atu menolong agama Allah.

 

3. Memilih waktu yang baik untuk menghafal

Dikutip dari Mukaddimah Majmu’ Syarh Muhadzzab, Imam al-Khatib al-Baghdadi merekomendasikan beberapa waktu dan tempat yang kondusif bagi para penghafal.

Waktu yang pertama yaitu waktu sahur. Sekitar sepertiga malam. Kedua, pertengahan siang hari. Selain dimanfaatkan untuk mencari penghidupan bagi kalangan pekerja, waktu ini dapat digunakan untuk menghafal pula.

 

Ketiga, pagi hari. Dan keempat, waktu malam. Ada pepatah yang sangat terkenal yaitu “Man thalabal ‘ula sahiral layali”, Siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan, maka bekerjalah sampai jauh malam

 

Dalam kitab Ta’limul Muta’allim disebutkan,

 

“Bukankah sebuah kerugian, ketika malam hari terlewatkan tanpa manfaat sedangkan umurku terus dihisab.”

Kelima, ketika dalam keadaan lapar. Diriwayatkan bahwa suatu hari Abu Juhaifah bersendawa di hadapan Rasulullah Saw. Kemudian Rasulullah Saw bersabda kepadanya:

“Pendekkanlah sendawamu! Sesungguhnya manusia yang paling lama lapar di akhirat nanti, adalah mereka yang paling banyak kenyang di dunia”. (HR. Al-Baihaqi).

 

4. Perdengarkan murottal dan mengulangi hafalan (Muraja’ah)

Dengan sering mendengarkan murattal al qur’an, akan merangsang otak kanan untuk membuat memori di dalam ingatan. Sehingga menjadi kebiasaan yang aktif diluar kesadaran.

Selain itu, membiasakan muraja’ah merupakan hal yang positif untuk mengikat hafalan. Karena membiasakan antara ingatan, hati dan ucapan selaras. Dalam hal ini, dianjurkan untuk mengulang minimal 20 kali, sampai 40 kali untuk menanamkan dalam memori.

 

5. Mempelajari kaidah bahasa Arab

“Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.” (QS. Yusuf : 2)

Dari ayat in ikemudian kita memahami bahwa dengan mempelajari bahasa Arab, maka akan memudahkan kita dalam mengetahui artinya. Sehingga akan mudahkan dalam menghafalkan ayat.

 

6. Memperbaiki tahsin dan tajwid

Ketika telah mendapati diri menjadi seorang penghafal Al-Quran, maka hal yang harus dilakukan adalah memperbaiki bacaan yakni tajwid dan tahsin. Tajwid mempelajari pada hukum huruf yang bertemu satu dengan lainnya dan hukum bacaannya. Sedangkan tahsin adalah pembenaran pada pengucapan makhorijul huruf yang dibaca, ada saatnya yang di lidah, kerongkongan, gigi dan lain sebagainya.

 

7. Fokuskan dan tenangkan berhadapan dengan Al-Quran

Karenanya ia adalah kalamullah, maka berinteraksi dnegannya memerlukan ketenangan hati. Tetap focus, serta jangan terburu-buru.

 

8. Setorkan pada murabbi

Jika sudah memulai menghafal, jangan lupa untuk melaklukan setoran kepada murabbi atau guru. Hal ini dilakukan untuk mengoreksi tajwid, tahsin, dan lain sebagainya.

 

9. Memohon doa kepada kedua orang tua

Satu hal penting dalam menghafal dan tidak boleh terlupakan adalah memohon doa dan ridho dari kedua orang tua agar senantiasa mendapat doa serta mendapat kemudahan. Karena keridoan orangtua juga merupakan jalan untuk mendapat ridho dan kemudahan dari Allah.

 

10. Tidak berputus asa

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf : 87)

Jika belum juga hafal, maka teruslah menghafal. Istiqomah. Karena berputus asa kepada rahmat Allah adalah kesesatan sebagaimana Allah katakana :

“Ibrahim berkata : ’Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat.”(QS. Al Hijr : 56)

Wallahu a'lam

 

 

Ditulis oleh Al Fakir, Rahmat Dianto

 


Last Updated ( Friday, 23 August 2019 15:11 )
 

BEZ News Letter